SIKAP SISWA DALAM BELAJAR

1.      Pengertian Sikap

Sikap merupakan kecenderungan pola tingkah laku individu untuk berbuat sesuatu dengan cara tertentu terhadap orang, benda atau gagasan. Sikap dapat diartikan sekelompok keyakinan dan perasaan yang melekat tentang objek tertentu dan kecenderungan untuk bertindak terhadap objek tersebut dengan cara tertentu (Calhoun, 1978: 315). Menurut Robert R.Gabe (dalam Siskandar, 2008:440), Sikap merupakan kesiapan yang terorganisir yang mengarahkan atau mempengaruhi tanggapan individu terhadap obyek. Sedangkan menurut Berkowitz (Azwar, 1995:5) Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung (favorable) atau tidak mendukung (unfavorable) terhadap objek tersebut. Selanjutnya lebih spesifik, Thurstone (Azwar, 1995:5) memformulasikan sikap sebagai derajat afek positif dan afek negatif terhadap suatu obyek psikologis. Obyek psikologis yang dimaksud adalah lambang-lambang, kalimat, semboyan, orang, institusi, profesi, dan ide-ide yang dapat dibedakan ke dalam perasaan positif atau negatif.

Sikap sebagai predisposisi atau kecenderungan tindakan akan memberi arah kepada perbuatan atau tindakan seseorang. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa semua tindakan atau perbuatan seseorang identik dengan sikap yang ada padanya. Seseorang mungkin saja melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan sikapnya. Sikap anak terhadap sekolah sangat besar pengaruhnya terhadap berhasil tidaknya pendidikan anak-anak di sekolah. Sikap yang positif terhadap sekolah, guru-guru, maupun terhadap teman-teman akan merupakan dorongan yang besar bagi anak untuk mengadakan hubungan yang baik. Dengan adanya hubungan yang baik, dapat melancarkan proses pendidikan di sekolah. Sebaliknya sikap yang negatif akan menyebabkan terjadinya hubungan yang tidak harmonis dan hanya akan merugikan anak itu sendiri (Nurkancana, 1986).

Definisi sikap yang telah dikemukakan di atas, masih umum dan bersifat teoretis. Hal ini menimbulkan kesulitan dalam pengukurannya, oleh sebab itu Show dan Wright (dalam Azwar,  1992), bahwa sikap memiliki referensi atau kelas referensi yang spesifik dan membatasi konstruksi sikap komponen afektif saja. Lebih jauh mereka mengemukakan, aspek afektif ini mendahului tingkah laku dan didasarkan pada proses kognitif.

Menurut Azwar, sikap terdiri atas 3 komponen yang saling menunjang yaitu:

  1. Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan (opini) terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem yang kontroversial.
  2. Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap seseorang komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.
  3. Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang. Dan berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak / bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu. Dan berkaitan dengan objek yang dihadapinya adalah logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan dalam bentuk tendensi perilaku.

Selanjutnya Rosenberg (dalam Azwar, 1998), dengan teori konsistensi afektfi-kognitifnya memandang bahwa ketiga komponen tersebut di atas saling berinteraksi secara selaras dan konsistensi dalam mempolakan arah sikap yang seragam. Apabila ketiga komponen itu ada yang tidak selaras atau tidak konsisten satu sama lain, maka akan menyebabkan timbulnya mekanisme perubahan sikap sampai konsistensi dapat tercapai kembali sehingga sikap yang semula negatif dapat berangsur-angsur berubah menjadi positif. Akan tetapi sikap yang ekstrim seperti sangat setuju atau sangat tidak setuju biasanya tidak mudah untuk dirubah.

Dari semua pengertian yang di ungkapan di atas dapat diambil sebuah pengertian tentang sikap, yaitu sikap adalah penerimaan, tanggapan, dan penilaian seseorang terhadap suatu obyek, situasi, konsep, orang lain maupun dirinya sendiri akibat hasil dari proses belajar maupun pengalaman di lapangan yang menyebabkan perasaan senang (positif/sangat positif) atau tidak senang (negatif/tidak negatif).

 2.      Tingkatan Sikap

Menurut Suke Silverius (dalam Riyono, 2005:11), sikap meliputi lima tingkat kemampuan yaitu:

- Menerima (Receiving)

Tingkat ini berhubungan dengan kesediaan atau kemauan siswa untuk ikut dalam suatu fenomena atau stimulus khusus. Misalnya dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah menanyakan, menyebutkan, mengikuti, dan menyeleksi.

- Menanggapi / Menjawab (Responding)

Pada tingkatan ini, siswa tidak hanya menghadiri suatu fenomena tetapi juga bereaksi terhadapnya. Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah menjawab, berbuat, melakukan, dan menyenangi.

- Menilai (Valuing)

Tingkat ini berkenaan dengan nilai yang dikenakan siswa terhadap sesuatu obyek atau fenomena tertentu. Tingkai ini berjenjang mulai dari hanya sekedar penerimaan sampai pada tingkat komitmen yang lebih tinggi. Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah membedakan, mempelajari, dan membaca.

- Organisasi (Organization)

Hasil belajar pada tingkat ini berkenaan dengan organisasi suatu nilai (merencanakan suatu pekerjaan yang memenuhi kebutuhannya). Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah menyiapkan, mempertahankan, mengatur, menyelesaikan, dan menyusun.

- Karakteristik dengan suatu nilai atau kompleks nilai

Hasil belajar pada tingkat ini meliputi banyak kegiatan, tapi penekanannya lebih besar diletakkan pada kenyataan banhwa tingkah laku itu menjadi ciri khas atau karakteristik siswa tersebut. Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah menerapkan, membenarkan cara pemecahan masalah, dan sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas maka dalam penelitian ini tingkatan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Pada tingkat pertama (menerima), sikap positif siswa dapat  dilihat dari kesediaan siswa untuk mengikuti pembelajaran matematika di kelas.
  2. Pada tingkat kedua (menanggapi), siswa yang bersikap positif akan cenderung menyenangi pembelajaran matematika di kelas.
  3. Pada tingkat ketiga (menilai), siswa yang bersikap positif akan berusaha untuk mempelajari materi matematika lebih dalam lagi.

Sebagai contoh mempelajari materi matematika saat di rumah.

  1. Pada tingkat keempat (organisasi), siswa yang bersikap positif akan berusaha menyelesaikan masalah / soal-soal matematika yang ada secara maksimal walaupun soal-soal tersebut tergolong sangat sulit.
  2. Pada tingkat kelima (karakteristik), siswa yang bersikap positif terhadap pembelajaran matematika akan berusaha menerapkan pengetahuannya dalam memecahkan masalah pada  kehidupan sehari-hari atau dapat berpikir kritis dalam menghadapi segala hal.

3.  Pengukuran sikap

Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah skala sikap. Menurut Bloom (dalam Annisa, 2011) dalam pengajaran matematika dikenal dua kategori skala sikap yaitu “Interest and Attitude” dan “Appreciation”. Kategori pertama mencakup lima dimensi afektif, yaitu:

  1. Attitude yaitu tingkat kecenderungan positif atau negatif yang berhubungan dengan suatu objek psikologis.
  2. Interest atau minat yaitu kecenderungan menghayati suatu objek untuk mengenal objek tersebut.
  3. Motivation (motivasi) yaitu kekuatan yang ada didalam diri seseorang yang mendorong orang tersebut untuk melakukan aktivitas – aktivitas tertentu untuk mencapai suatu tujuan.
  4. Anxiety yaitu kecemasan seseorang yang disebabkan oleh rasa ketidakmampuannya dalam memecahkan suatu permasalahan.
  5. Self – concept yaitu pandangan individu terhadap dirinya sendiri yang sangat dipengaruhi oleh anggapan dan pendapat dari orang lain.

Kategori kedua dibedakan atas tiga dimensi, yaitu:

  1. Extrinsic Appreciation adalah aktivitas yang timbul akibat dari dorongan yang berasal dari luar diri individu.
  2. Intrinsic Appreciation adalah aktivitas yang timbul karena adanya dorongan dari dalam diri individu itu sendiri.
  3. Operational Appreciation adalah bentuk perbuatan intelektual yang mungkin terjadi selama proses berpikir

Dalam penyusunan instrumen skala sikap diperlukan pedoman penulisan pernyataan sehingga dapat dijamin kesahihan dari apa yang ingin dicapai. Kriteria yang disarankan menurut Edwards (dalam Azwar,1995: 114-118) untuk pernyataan sikap yaitu:

  1. Hindari pernyataan yang berhubungan dengan masa lampau.
  2. Hindari pernyataan yang bersifat fakta atau yang dapat ditafsirkan sebagai fakta.
  3. Hindari pernyataan yang ambigu.
  4. Hindari pernyataan yang tidak relevan dengan objek psikologis yang diamati.
  5. Hindari pernyataan yang kemungkinannya dibenarkan oleh hampir setiap orang atau tak seorangpun yang membenarkannya.
  6. Pilih pernyataan yang diperkirakan mencakup jangkauan skala afektif yang diinginkan.
  7. Usahakan bahasa pernyataan yang sederhana, jelas dan langsung.
  8. Pernyataan seharusnya singkat, tidak melebihi 20 kata.
  9. Setiap pernyataan seharusnya memuat hanya satu pemikiran secara lengkap.
  10. Hindari penggunaan kata umum seperti “semua”, “selalu”, “tak seorangpun” dan “tak pernah” yang sering menimbulkan arti ganda dalam pernyataan.
  11.  Hati – hati dalam menggunakan kata – kata seperti “hanya”, “sekedar”, “semata – mata” dan “lain – lain” dalam pernyataan.
  12.  Jika mungkin, pernyataan sebaiknya dibuat dalam bentuk kalimat sederhana daripada dalam bentuk kalimat yang rumit.
  13. Hindari penggunaan kata negatif lebih dari satu kali.

Berikut ini beberapa aspek sikap yang berhubungan dengan penelitian ini adalah mengenai Keyakinan Diri, Nilai, Kenikmatan, dan Motivasi.

  1. Keyakinan; Kategori keyakinan dirancang untuk mengukur kepercayaan diri siswa dan konsep kinerja mereka dalam matematika. Contohnya siswa yakin dapat mempelajari matematika dengan baik, tidak merasa gugup dan tertekan saat belajar matematika, dapat memecahkan masalah matematika tanpa banyak kesulitan, dan percaya pada diri sendiri saat mengerjakan soal matematika.
  2. Nilai; Nilai dari kategori matematika dirancang untuk mengukur keyakinan siswa pada relevansi, kegunaan dan nilai matematika dalam kehidupan mereka sekarang dan di masa depan. Contohnya dengan memahami matematika ada keyakinan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, dan berusaha memperdalam pengetahuan tentang matematika misalnya mengikuti kursus matematika di luar sekolah.
  3. Kenikmatan; Kenikmatan dari kategori matematika dirancang untuk mengukur sejauh mana siswa menikmati pelajaran matematika dan kelas matematika. Contohnya senang mengikuti pelajaran mattematika dan mengerjakan latihan soal maupun tugas matematika tepat waktu.
  4. Motivasi; Kategori motivasi ini dirancang untuk mengukur minat dalam matematika dan keinginan untuk melanjutkan studi dalam matematika. Contohnya siswa merasa tertantang jika guru memberikan soal matematika yang sulit, dan merasa penting untuk mendapatkan penilaian ataupun penghargaan atas latihan soal atau tugas matematika.

 

sumber referensi:

Azwar, Saifuddin. (1995). Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Liberty.

Calhoun, J.F dan Joan Ross Acocella. (1995). Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan. Semarang : IKIP Semarang.

Riyono. (2005). Hubungan Sikap Dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Bengkayang Dalam Pembelajaran Matematika. Skripsi. Pontianak : FKIP UNTAN.

Siskandar. (2008). Sikap     dan     Motivasi     Siswa      dalam      kaitan    denga  Hasil Belajar Matematika di SD. http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/1407208438451.pdf (online). diakses tanggal 6 April 2011.

About these ads

Perihal Kapur Tulis
saya si kapur tulis..." Hanya ingin berbagi dan mencari ilmu"

5 Responses to SIKAP SISWA DALAM BELAJAR

  1. juni mengatakan:

    tambah lagi mas bro artikelnya, klo ada media pmbelajaran bole bagi2 donlod gratisan… :D *maunya*

  2. adul mengatakan:

    Menurut Bloom (dalam Annisa, 2011) dalam pengajaran matematika dikenal dua kategori skala sikap yaitu “Interest and Attitude” dan “Appreciation”.

    kok di daftar pustaka nggak ada annisa???????
    ini sebernya tulisan siapa sih?????
    butuh bukunya nih……

  3. Wahyudi Zark mengatakan:

    saya mohon untuntuk buku-buku landasan dalam penulisan artikel ini dapatnya dari mana ya gan, tolong saya bantu untuk pencarcarian buku beikut, maklum gan lagi skripsi dan bingung cari buku reverensi terima kasih…..

  4. RAMA mengatakan:

    Tingkatan Sikap

    Menurut Suke Silverius (dalam Riyono, 2005:11), sikap meliputi lima tingkat kemampuan yaitu:

    - Menerima (Receiving)

    Tingkat ini berhubungan dengan kesediaan atau kemauan siswa untuk ikut dalam suatu fenomena atau stimulus khusus. Misalnya dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah menanyakan, menyebutkan, mengikuti, dan menyeleksi.

    - Menanggapi / Menjawab (Responding)

    Pada tingkatan ini, siswa tidak hanya menghadiri suatu fenomena tetapi juga bereaksi terhadapnya. Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah menjawab, berbuat, melakukan, dan menyenangi.

    - Menilai (Valuing)

    Tingkat ini berkenaan dengan nilai yang dikenakan siswa terhadap sesuatu obyek atau fenomena tertentu. Tingkai ini berjenjang mulai dari hanya sekedar penerimaan sampai pada tingkat komitmen yang lebih tinggi. Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah membedakan, mempelajari, dan membaca.

    - Organisasi (Organization)

    Hasil belajar pada tingkat ini berkenaan dengan organisasi suatu nilai (merencanakan suatu pekerjaan yang memenuhi kebutuhannya). Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah menyiapkan, mempertahankan, mengatur, menyelesaikan, dan menyusun.

    - Karakteristik dengan suatu nilai atau kompleks nilai

    Hasil belajar pada tingkat ini meliputi banyak kegiatan, tapi penekanannya lebih besar diletakkan pada kenyataan banhwa tingkah laku itu menjadi ciri khas atau karakteristik siswa tersebut. Kata-kata kerja operasional yang dapat digunakan untuk rumusan indikatornya adalah menerapkan, membenarkan cara pemecahan masalah, dan sebagainya.

    teori ini ADA JURNALNYA GAK ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: