Saya Menjadi Fasilitator Dan Juga Guru

Beberapa tahun yang lalu, rekan kerja saya berkata pada saya, “Mary Jane, kamu adalah guru yang baik, tetapi kamu terlalu banyak memberi tahu,” saya terkejut ia berkata demikian. Bagaimanapun ,saya telah menjadi guru yang sukses selama lebih dari 20 tahun. Saya selalu mendapat hasil evaluasi yang sangat mememuaskan dari atasan saya dan disenangi oleh rekan – rekan dan murid – murid saya. Setelah mempertimbangkan dengan seksama, saya menyadari bahwa saya harus mengevaluasi ulang cara saya mengajar dan saya menyadari bahwa rekan saya benar.

Pelajaran saya menarik, namun saya selalu memberi tahu murid – murid saya semua yang harus mereka ketahui dan tidak member i mereka kesempatan untuk memecahkan sendiri masalahnya. Saya terlalu cepat member mereka bantuan dan tidak member mereka waktu untuk berpikir dan memecahkan masalah sendiri. Saya merasa bahwa waktunya terlalu singkat sehingga saya tidak dapat member murid saya kesempatan untuk memikirkan suatu masalah dan menemukan jawaban. Sebenarnya, saya memperlakukan mereka dengan tidak adil ketika saya hanya member tahu jawaban ketika mengajar.

Ketika mengajar matematika, sangat penting member murid kesempatan untuk berpikir tentang gagasan/ pikiran mereka sendiri dan berinteraksi dengan murid lain. Saya yakin bahwa sekarang saya adalah fasilitator dan bukan hanya sekedar guru. Bertanya adalah kuncinya. Saya sering menanyakan,” bagaimana caramu menemukan jawaban ini?” “ apa kamu yakin itu adalah jawaban yang benar?” “apa yang kamu pikirkan ketika meyimpulkan hal itu?” “ adakah yang mendapatkan jawaban dengan cara yang lain?” dengan member dorongan pada murid – murid saya, saya membuat mereka berpikir tentang bagaimana mereka mendapat sebuah jawaban dan member mereka kesempatan untuk secara aktif membuat kesimpulan. Setiap murid tertarik mendengarkan murid lain untuk mencari apakah murid lain mendapatkan jawaban yang sama dengan menggunakan strategi yang berbeda dan sering kali tertantang untuk mencari jawaban dengan cara lain.

Alat bantu sangat penting bagi murid ketika mereka belajar matematika. Mereka perlu menggunakan alat – alat ini untuk mendapat pemahaman yang baik. Sebagai contoh, ketika sepuluh balok digunakan untuk menjawab soal tentang penyusunan kembali, murid dapat benar – benar melihat mengapa mereka meminjam atau mempunyai angka sepuluh. Murid membentuk pemahaman yang lebih jelas tentang cara mereka menemukan jawaban ketika menggunkan alat bantu. Alat bantu meningkatkan rasa percaya diri murid karena mereka “mengalami sendiri”. Murid belajar untuk mengambil resiko ketika mereka ikut serta dalam memecahkan masalah. Mereka harus memahami bahwa mereka harus belajar dari kesalahan yang mereka buat. Saya sering sekali harus memberi banyak contoh bagi murid saya untuk memberi tahu mereka aturannya. Sebagai contoh, saya ingin membuat murid saya memahami bahwa ketika kita mengalikan dua dengan sebuah bilangan, jawabannya selalu bilangan genap. Ini berlaku ketika kita mengalikan dua angka genap atau ganjil. Kami mengerjakan banyak soal tentang perkalian dua terlebih dahulu, namun akhirnya mereka mengerti aturan tersebut. Anak – anak sangat bangga ketika mereka akhirnya mengetahui dan berkata “aha”. Anak – anak yang mengikuti pelajaran menjadi semakin tertarik, sehingga mereka lebih cepat menguasai pelajaran. Sekarang saya senang mengajar dengan cara ini. Sangat memuaskan melihat mata murid saya berbinar ketika mereka memahami cara memecahkan masalah/ soal. Apakah yang mereka pelajari menjadi jauh lebih berarti karena mereka berpatisipasi dalam pembelajaran. Saya juga yakin bahwa murid juga menikmati belajar dengan cara ini. Mereka mengikuti dengan aktif ketika memecahkan soal yang menantang.

Saran yang berguna: “ Berilah murid anda kesempatan untuk bekerja berpasangan atau dalam kelompok kecil ketika mengerjakan soal. Dua kepala lebih bak daripada satu”.

Tulisan diatas merupakan artikel karangan Mary Jane Short dari Millsboro, Delaware. Beliau merupakan guru kelas dua sekolah dasar Long Neck Indian River school Districy serta merupakan peraih penghargaan “ Presidential Award for Excellence in Teaching Mathematics and Science (PAEMST) di tahun 2004. Tulisan ini saya sadur dari buku berjudul “ cara – cara terbaik mengajarkan matematika ” karangan Randi Stone. Semoga tulisan beliau dapat bermanfaat bagi kita semua dan untuk dunia pendidikan kita serta memberikan kita inspirasi bagaimana cara mengajar matematika.

Iklan

Perihal Kapur Tulis
saya si kapur tulis..." Hanya ingin berbagi dan mencari ilmu"

10 Responses to Saya Menjadi Fasilitator Dan Juga Guru

  1. juara26 says:

    tambah lagi bro entriny, mudah2n makin mantabbbb

  2. bangzai10 says:

    hem…. mNTAP NI..
    sEMOGA bisa di praktekan dalam pengajaran….

  3. uul says:

    mantapppppppppppppppp bg :))

  4. Dendy says:

    Cerita pengalaman yang bagus….
    Guru emang gak ada matinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: