Konsep Kesamaan dan Simbol Sama Dengan ( = )

Menurut Cajori (1928) dalam Oksuz (2007) simbol “sama dengan” pertama kali digunakan dalam buku – buku yang dicetak oleh Robert Recorde di tahun 1557 dalam The Whetstone of White. Sekarang kita menggunakan simbol “sama dengan” dalam konteks matematika yang berbeda, seperti aritmatika, aljabar, trigonometri, teori himpunan, dan sebagainya. Namun, dalam aljabar, simbol “sama dengan” terletak di antara dua ekspresi aljabar dan menunjukkan bahwa dua ekspresi yang terkait menyatakan sebagai suatu hubungan kesamaan (Kieran dalam Oksuz, 2007).
Dari sudut pandang lain, menurut Usiskin dalam Oksuz (2007) menyatakan bahwa sebuah bilangan dapat diwakilkan oleh sebuah kata, ruang kosong persegi, ataupun sebuah tanda tanya, namun semua dari simbol tersebut merupakan variabel dari suatu gambaran aljabar. Sebagai contoh, sesuatu ketika ditambahkan ke 12 akan menghasilkan 18, hal tersebut dapat diekspresikan ke persamaan berikut: 12 + x = 18.
Siswa – siswa harus mengerti mengenai kesamaan merupakan hubungan mengekspresikan ide bahwa dua ekspresi matematika mempunyai nilai yang sama. Siswa sering salah memahami bahwa simbol kesamaan ketika mereka mulai belajar matematika. Alih-alih memahami bahwa simbol “sama dengan” menunjukkan kesamaan antara ekspresi di sisi kiri dan sisi kanan persamaan, siswa menafsirkan tanda “sama dengan” sebagai berarti “melakukan sesuatu” atau tanda sebelum jawabannya. Kurangnya pemahaman seperti itu adalah salah satu hambatan utama bagi siswa ketika mereka bergerak dari aritmatika menuju aljabar. Namun menumbuhkan pemahaman ini dapat menghubungkan antara aritmatika dan aljabar. Misalnya, ketika anak memecahkan masalah 10 – ( 8 – 1 ) = ( 10 – 8 ) + 1, hal ini melibatkan aritmatika, tetapi hal tersebut juga belajar keterampilan penting berpikir untuk terlibat dalam aljabar

Berikut ini saya beri link download jurnal mengenai artikel diatas: Klik aja disini